Press "Enter" to skip to content

4 Hal Yang Membuat Kamu Seharusnya TIDAK IKUT IPO Saham Bukalapak. No 2 WAJIB Diperhatikan

Rame-rame orang membahas tentang IPO dari salah satu startup unicorn Indonesia yaitu Bukalapak .

Ada yang membahas Bukalapak dari sisi kinerjanya yang masih bakar duit.

Ada yang membahas dari sisi potensi penetrasi Bukalapak setelah IPO.

Dan ada juga yang membandingkan Bukalapak ini dengan Amazon dll dari sisi bahwa saat ini wajar belum ada keuntungan alias masih rugi

Semua berharap Bukalapak akan seperti Amazon yang akan menuai keuntungan di tahun-tahun mendatang.

Tidak ada yang salah sebenarnya saat membandingkan Bukalapak dengan Amazon apalagi dengan potensi ecommerce dan teknologi di masa yang akan datang.

Tapi ingat mereka lupa beberapa hal

Sebelum masuk ke pembahasan ITSTIME.ID bekerjasama dengan Stock Guide ID mengadakan Kelas VIP Stock Guide ID secara GRATIS

Pembahasannya dari profil investor, money management, cara memilih saham potensi bagger dan tips dan trik di bursa saham yang WAJIB diketahui

Detailnya bisa dibaca disini Kelas VIP GRATIS Stock Guide ID

1. Konsep awal

Jika kita membaca buku The Everything Store Jeff Bezos dan Era Amazon By Brad Stone maka kita akan melihat lika liku Jeff Bezos saat mendirikan Amazon.

Awalnya Amazon memang menjual buku saja seperti layaknya ecommerce seperti yang kita kenal sekarang tetapi ternyata lama-lama mereka berani menekan penerbit untuk menjual buku di tempat mereka dan menggunakan harga Amazon (padahal masih fase Amazon berdiri).

Konsep ini sangat berbeda dengan Bukalapak yang sampai sekarang masih menjadi tempat jual beli saja dari para seller dan buyer tanpa keterlibatan Bukalapak yang lebih dalam.

Dan jika kita membahas sekarang maka akan sangat jauh berbeda karena Amazon sudah tumbuh bukan menjadi ecommerce tetapi justru menjadi The Everyting Store yang salah satunya adalah bisnis Cloud Computingnya yang justru menjadi salah satu penyumbang pendapatan terbesar di tahun 2021 (Baca disini)

2. Founder

Dalam bisnis startup kekuatan dan mimpi founderlah yang menjadi modal utama perjuangan startup dan hal ini diaminkan oleh Wilson Cuaca (Pendiri dan Managing Partner East Ventures).

Wilson Cuaca mengatakan bahwa dalam memberikan investasi dia akan melihat foundernya. (Artikel lengkapnya disini)

Kembali ke situasi perbandingan antara Bukalapak dengan Amazon.

Amazon IPO pada tahun 1997 atau tepatnya 15 Mei 1997 dan saat IPO, Amazon masih dikawal oleh Jeff Bezos bahkan sampe saat ini Jeff Bezos masih ada dalam lingkaran pimpinan.

Bagaimana dengan kondisi Bukalapak? Foundernya sudah exit dari pimpinan walopun masih punya sahamnya.

Menurut catatan Wikipedia, Bukalapak didirikan oleh 3 orang yaitu Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Muhamad Fajrin Rasyid pada tahun 2010.

Bagaimana kondisi para founder tersebut saat Bukalapak mau IPO? Ya ketiga founder Bukalapak sudah exit alias meninggalkan Bukalapak sendiri.

Achmad Zaky mundur pada Desember 2019, Nugroho Herucahyono yang keluar dari perusahaan pada April 2020 dan Muhamad Fajrin Rasyid mundur Juni 2020.

Selain dengan Amazon, Bukalapak juga dibandingkan dengan beberapa unicorn di Indonesia baik yang sama-sama bergelut di bidang ecommerce maupun yang sebentar lagi akan IPO.

Untuk yang berhubungan dengan ecommerce ada nama Tokopedia dan yang sebentar lagi akan IPO ada Gojek (walopun sekarang sudah merger dengan Tokopedia).

Memang tidak tepat untuk membandingkan karena Bukalapak sudah resmi akan IPO sedangkan GOTO belum. Tetapi jika ingin membahas dari sisi founder maka akan ada perbedaan.

GO (Gojek) didirikan oleh Nadiem dan cofoundernya adalah Kevin Aluwi dan sekarang Kevin Aluwi masih ada dalam pimpinan Gojek bahkan menjadi CEO semenjak Nadiem Makarim diangkat sebagai Menteri Pendidikan. (Baca detail tentang Kevin Aluwi disini)

Bagaimana dengan TO alias Tokopedia? Tokopedia didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison dan sekarang keduanya masih ada dalam jajaran pimpinan

3. Kinerja

Kita tidak akan membahas sisi kinerja secara detail tetapi besar kemungkinan, hampir semua unicorn sedang bakar uang.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana posisi Bukalapak sekarang apalagi dibandingkan dengan kompetitor sesama ecommerce?

Melihat data yang dikeluarkan oleh Web Retailer disebutkan bahwa posisi pertama untuk marketplace online yang paling sering dikunjungi yaitu

1. Shopee dengan jumlah kunjungan 197,8 juta per bulan

2. Lazada dengan jumlah kunjungan 161,7 juta per bulan

3. Tokopedia dengan jumlah kunjungan72,4juta per bulan

Dimana Bukalapak? Bukalapak berada di posisi keempat dengan jumlah kunjungan 26.5juta

Peringkat ketiga dan keempat nyaris selisih 2x lipatnya. (Sumber disini)

Bahkan jika membahas tentang jumlah kunjungan hanya dari Indonesia quartal 1 Thaun 2021 maka yang menjadi no 1 adalah Tokopedia dengan jumlah kunjungan bulanan selama kuartal I 2021 mencapai 126,4 juta.

Peringkat 2 ada Shopee dengan 117 juta kunjungan bulanan.

Dan selama kuartal I 2021, Bukalapak tercatat memiliki kunjungan bulanan sejumlah 31,27 juta alias peringkat ketiga.

4. Kita sendiri

Ya kita bisa mengukur kinerja startup dengan cara apakah kita menggunakannya

Sekarang siapa yang di handphonenya diinstal Bukalapak?

Siapa yang rutin transaksi di Bukalapak?

Dan siapa yang mempunyai Shopee, Gojek, Tokopedia di handphonenya

Sering mana menggunakan aplikasi GOTO atau menggunakan aplikasi Bukalapak?

Mungkin poin no 4 sangat subjektif tapi kita kalo mau bisa survey kecil-kecilan dengan menanyakan 5 orang terdekat kita, apakah mereka menggunakan Bukalapak atau tidak.

Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya, tapi yang jelas saat kita membeli saham BUKA nantinya yang terbersit pertama adalah ARA berjilid-jilid.

Kinerja? Ah apa itu kinerja yang penting kita cuan

Selamat berspekulasi secara legal

Be First to Comment

    Leave a Reply