histats Press "Enter" to skip to content

Analisa Dalam Investasi Saham Tidak Berguna Jika Emosi Masih Mengikuti

Editor : Ahmad Muttaqin

Ada begitu banyak rasio yang digunakan untuk mencari saham berfundamental bagus yang sudah ditulis oleh ITSTIME.ID. Mulai dari tentang mencari harga wajar saham hingga dividen trap dan semuanya bisa dibaca disini Panduan Berinvestasi Saham Bagi Pemula

Tapi sebenarnya  ada 1 kunci lagi yang bahkan inilah yang menjadi penentu kesuksesan kita dalam berinvestasi. Apa itu? Emosi.

Menurut Wikipedia, emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu.

Kalian bisa baca dulu gambar di atas dengan seksama kemudian baru melanjutkan membaca artikelnya.

ITSTIME.ID akan memberikan contoh kasus emosi-emosi yang menyertai saat berinvestasi di dunia saham

1. Takut ketinggalan kereta

Jika mengambil kasus IHSG akhir bulan Maret 2020 ini hingga awal April 2020, IHSG berturut-turut mengalami kenaikan walaupun diselingi dengan penurunan sedikit. Tapi secara umum naik.

Jika kita sudah mempunyai uang di RDN maka kita akan mempunyai keinginan untuk ikut membeli dengan emosi ketakutan jika tidak membeli saat ini harganya akan terus naik.

Contoh :

Harga saham ABCD hari Senin 1000, kemudian hari Selasa dan Rabu turun berturut-turut 100 hingga menjadi 800.

Saat hari Kamis, hingga Senin minggu berikutnya harga saham ABCD terus naik hingga mencapai 1200. Disinilah emosi akan muncul. Perlukah ikut membeli dengan kekhawatiran bahwa saham ABCD akan naik terus hingga 1500 dan khawatir tidak bisa membeli di harga murah.

2. Takut membeli saat harga mulai naik

Situasi ini berlaku saat harga saham yang kita incar mulai naik dan terus naik. Biasanya emosi yang muncul adalah jangan-jangan nanti pas saya sudah membeli malah harganya turun. Jangan-jangan saya malah membeli di harga pucuk.

Contoh :

Contoh kasus disini hampir mirip dengan emosi yang takut ketinggalan kereta. Tetapi dengan latar belakang yang berbeda.

Jika emosi takut ketinggalan kereta itu ketakutan tidak mempunyai lot di harga bawah, kalo emosi takut membeli saat harga mulai naik ini malah takut harganya turun ketika sudah membeli. Dan jikapun akhirnya harga sahamnya turun pasti langsung ada anggapan “benar to harganya akan turun lagi”.

3. Takut membeli saat harga turun

Emosi disini terjadi jika kita melihat harga saham incaran yang kita inginkan terus turun dan membuat emosi kita menjadi ikut bermain dengan anggapan “Jangan-jangan kalo beli sekarang nanti turun lagi. Coba ditunggu dulu”

Jikapun harga sahamnya terus turun maka kita semakin percaya diri dengan analisa yang dibuat. Tapi jika ternyata harga saham yang kita incar malah naik biasanya juga kecewa dan malah masuk ke emosi no 2.

4. Semakin percaya diri saat ada orang yang memilih saham yang sama

Situasi ini terjadi saat kita sendiri sudah menganalisa dengan berbagai teknik dan berbagai rasio sehingga akhirnya membeli saham yang diincar.

Suatu saat jika sedang berselancar di forum-forum saham dan menemukan orang yang memilih saham yang sama dengan analisa yang berbeda, maka akan timbul perasaan percaya diri dan sedikit membanggakan diri “benar to analisa saya terhadap pilihan saham ABCD ini”

5. Kesal jika ada orang berpendapat berbeda tentang saham yang kita miliki

Emosi no 5 ini berkebalikan dengan emosi di poin 4. Disini kita akan emosi dengan orang yang menganalisa berbeda dengan analisa kita.

Contoh

Kita menganalisa saham ABCD bagus karena mempunyai PER, PBV dan DER baik. Ternyata ada orang lain yang menganggap sebaliknya bahwa seharusnya saham ini akan turun terus karena LK-nya buruk. Nah di titik ini akan muncul emosi marah dan kesal dan berusaha menyerang balik orang yang berbeda tersebut.

Pertanyaannya adakah emosi begini?

Banyak. Coba cari saja di forum-forum saham

6. Selalu merasa prediksinya salah terkait harga saham

Perasaan ini muncul ketika memprediksi harga saham ABCD akan naik besok dengan asumsi beberapa hari yang lalu sudah naik. Dan ternyata harga sahamnya malah turun.

Di kesempatan lain ketika memprediksi harga turun ternyata malah naik.

7. Untung sedikit was-was

Tujuan berinvestasi adalah uang kita terus bertumbuh. Tidak terkecuali dengan saham.

Namun ada anomali yang menarik bahwa saat saham kita ijo justru kita menjadi was-was dan takut harganya turun sehingga yang seharusnya untung menjadi buntung.

Di titik ini emosi kita bermain dan ingin segera menjual sahamnya walopun baru untung 2%.

Tapi enggak apa-apa kan kalo kita pengen dapat untung 2%? Tidak. Yang menjadi lucu adalah ketika kita sudah menetapkan kapan kita menjual (misal dengan asumsi untung 25%) tapi sudah was was saat baru untung 2% hingga 5%.

Contoh

Ahmad telah memilih saham ABCD dan sudah menghitung harga wajarnya 1000. Saat ini harga saham ABCD berada di harga 750 yang artinya potensi untungnya adalah 25%.

Tapi kenyataannya berbeda. Saat harganya sudah naik menjadi 760 atau 770 sudah panik ingin menjual. Nah situasinya seperti itulah.

8. Merah banyak tetap sabar, tapi naik dikit pengen langsung jual

Nah ini kebalikan dari emosi no 7. Disini saat harga saham terus turun, masih tetap sabar dan tetap optimis bahwa saham akan naik. Memang seharusnya seperti itu tetap sabar dan percaya bahwa saham akan kembali ke harga wajarnya. Cuma yang menjadi masalah adalah ketika no 8 ini di gabung dengan poin 7 dan nyatanya investor model begini banyak banget. Istilah ngehitsnya “Investor Dadakan”.

Contoh :

Ahmad membeli saham ABCD dengan harga 750 dan mempunyai pandangan harga wajar 1000. Dan ternyata harga saham ABCD terus turun menuju 700 bahkan hingga turun ke 550. Akhirnya Ahmad pasrah dan mulai bertanya-tanya apakah harga wajar 1000 itu benar atau tidak.

Yang awalnya sabar kemudian mulai ada emosi no 6 (Selalu merasa prediksinya salah terkait harga saham) ditambah emosi poin 5 (Kesal jika ada orang berpendapat berbeda tentang saham yang kita miliki)  membuat emosi poin 7 muncul. Dan akhirnya saat harganya dari 550 naik menjadi 600 langsung jual.

Itulah emosi-emosi yang sering terjadi di dunia saham dan menurut ITSTIME.ID menghitung rasio-rasio tidak akan berguna ketika emosi tidak bisa dikendalikan.

Sumber :

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Emosi

(Visited 36 times, 1 visits today)

Be First to Comment

Leave a Reply

Mission News Theme by Compete Themes.