Press "Enter" to skip to content

Anthurium Gelombang Cinta, Louhan, Batu Akik Dan Janda Bolong Adalah Monkey Bisnis

Di era pandemi corona ini ternyata ada beberapa hal yang melejit dan salah satu yang melejit di saat yang lain turun adalah tanaman.

Perubahan dari work from office menuju konsep work from home membuat rumah didesain dengan nyaman untuk bekerja dan tanaman menjadi ornamen yang menjadi salah satu penghias ruangan.

Namun karena hitsnya tanaman malah muncul tanaman yang di luar nalar.

Jika searching di Tokopedia janda bolong dan difilter menggunakan harga tertinggi maka didapat hasil berikut

Sumber : https://www.tokopedia.com/find/tanaman-janda-bolong?ob=4

Atau di portal berita seperti di bawah ini

Sumber : https://portaljember.pikiran-rakyat.com/gaya-hidup/pr-16812635/harganya-capai-rp-120-juta-ini-ciri-ciri-janda-bolong-mahal-vs-janda-bolong-murah

Jika ditarik ke belakang maka di Indonesia pernah booming tanaman anthurium gelombang cinta, louhan dan yang belum lama batu akik.

Semua keanehan di atas disebut dengan monkey bisnis atau monkey business

Apa itu monkey bisnis?

Apa jualan monyet?

Cerita dari monkey bisnis yang terkenal sebagai berikut

Suatu hari di sebuah desa, seorang yang kaya raya mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp. 50,000,- per ekor. Padahal monyet disana sama sekali tak ada harganya karena jumlahnya yang banyak dan kerap dianggap sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan.

Para penduduk desa yang menyadari bahwa banyak monyet disekitar desa pun kemudian mulai masuk hutan dan menangkapinya satu persatu. Kemudian si Orang Kaya membeli ribuan ekor monyet dengan harga Rp 50,000,- . Karena penangkapan secara besar-besaran akhirnya monyet-monyet semakin sulit dicari, penduduk desa pun menghentikan usahanya untuk menangkapi monyet-monyet tersebut.

Maka si Orang Kaya pun sekali lagi kembali untuk mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp 100,000 per ekor. Tentu saja hal ini memberi semangat dan “angin segar” bagi penduduk desa untuk kemudian mulai untuk menangkapi monyet lagi.

Tak berapa lama, jumlah monyet pun semakin sedikit dari hari ke hari dan semakin sulit dicari, kemudian penduduk pun kembali ke aktifitas seperti biasanya, yaitu bertani. Karena monyet kini telah langka, harga monyet pun meroket naik hingga Rp 150,000,- / ekornya. Tapi tetap saja monyet sudah sangat sulit dicari.

Sekali lagi si Orang Kaya mengumumkan kepada penduduk desa bahwa ia akan membeli monyet dengan harga Rp 500,000,- per ekor!

Namun, karena si Orang Kaya harus pergi ke kota karena urusan bisnis, Asisten pribadinya akan menggantikan sementara atas namanya.

Dengan tiada kehadiran si Orang Kaya, si Asisten pun berkata pada penduduk desa: “Lihatlah monyet-monyet yang ada di kurungan besar yang dikumpulkan oleh si orang kaya itu. Saya akan menjual monyet-monyet itu kepada kalian dengan harga Rp 350,000,- / ekor dan saat si Orang
Kaya kembali, kalian bisa menjualnya kembali ke si Orang Kaya dengan harga Rp 500,000,-

Bagaimana…?”

Akhirnya, penduduk desa pun mengumpulkan uang simpanan mereka, menjual aset bahkan kredit ke bank dan membeli semua monyet yang ada di kurungan.

Namun…Kemudian… Mereka tak pernah lagi melihat si Orang Kaya maupun si Asisten di desa itu!

Sedangkan warga, mereka memiliki masalah dengan monyet kembali begitu juga dengan uang mereka yang sudah habis.”

Mungkin cerita di atas fiktif namun alur bisnisnya kurang lebih seperti itu.

Mengutip dari website Koinwork bisnis monyet bisa diartikan sebagai strategi bisnis yang bertujuan untuk merugikan orang lain dengan cara meningkatkan keuntungan bagi diri sendiri walaupun dengan penipuan.

Konsep permainannya seperti ini diawali satu atau beberapa pihak pemodal besar yang mendesain agar suatu komoditas bernilai tertentu.

Perlahan namun pasti, komoditas tersebut bakal mempunyai nilai yang terus bertambah, kendati komoditas itu tidak memiliki manfaat yang jelas serta ilmiah. Kemudian, dengan suatu cara, para pemodal akan mendapat keuntungan karena telah menyusun skenario.

Ketika barang itu mencapai puncak booming, mereka melepas stok yang disiapkan sejak lama. Setelah itu,
karena terlalu banyak suplai di pasaran dan permintaan yang tidak sebanding, perlahan harga barang
tersebut otomatis turun mengikuti mekanisme pasar mencari harga yang wajar. Sumber

Dan biasanya bisnis model seperti ini diawali dari :

1. Jual beli barang sepele atau bahkan tidak berguna atau sesuatu yang tidak bernilai

2. Barang semakin langka dan harganya naik gila-gilaan

3. Diakhiri dengan penipuan dan si pengusaha monkey bisnis tidak diketahui rimbanya dan barang yang diperjualbelikan akan kembali ke harga wajarnya

Sebenarnya masih ada irisan antara monkey bisnis dengan hobi atau kolektor yang memang kadang harganya tidak wajar, namun monkey bisnis biasanya memang naiknya diluar kendali dan dalam waktu yang cepat. Sedangkan hobi memang ada kenaikan tetapi masih wajar dan pelan-pelan.

Selain itu yang membedakan monkey bisnis dan hobi atau kolektor adalah motif dalam membeli.

Para penghobi atau kolektor membeli produk karena mencintai dan menyenangi barang tersebut. Mereka tidak lagi memikirkan uang saat membelinya. Sementara monkey bisnis dibeli bukan karena benar-benar dicintai atau disukai. Orang-orang memburunya karena motif ingin mendapatkan uang yang lebih besar ketika dijual nanti. Motif investasi.

Sumber :

1. https://www.helmiadamchannel.com/2019/12/inilah-monkey-bisnis-yang-banyak.html

2. https://koinworks.com/blog/mengenal-monkey-business/

3. https://kaltimkece.id/rupa/gaya-hidup/mengenal-janda-bolong-yang-sedang-naik-daun-dan-bahaya-fenomena-monkey-business-yang-menguntitnya

Sumber featured image

1. https://www.taobali.org/

2. https://s0.bukalapak.com/

3. https://www.hobinatang.com/

4. https://shopee.co.id/

5. https://www.lazada.co.id/

Artikel Yang WAJIB Dibaca Juga
(Visited 75 times, 12 visits today)

Be First to Comment

    Leave a Reply