Apakah Memang Mengunyah Harus 32 Kali? – ITS TIME

Apakah Memang Mengunyah Harus 32 Kali?

Dulu saat pelajaran di SMP atau SMA sering disebutkan bahwa mengunyah 32 kali bahkan sampai ada hadistnya yang mengatakan Rosul mengunyah makanan 30-50 kali. (ITSTIME.ID tidak menemukan redaksi hadistnya dan hanya ada sumber dari web http://risalahmutiaratauhid.blogspot.com/

“Saya mengunyah setiap suap makanan 30 – 50 kali, sehingga menjadi lembek dan melalui kerongkongan tanpa kesulitan. Bahkan, pada makanan yang sulit dicerna dengan baik, saya kunyah sampai 70 – 75 kali.”

Tapi apakah memang seharusnya kita mengunyah 32 kali?

Apa efeknya jika mengunyah 32 kali dan apa efeknya jika mengunyah tidak 32 kali?

ITSTIME.ID merangkum tentang mengunyah 32 kali dari berbagai sumber. Sumber di akhir artikel.

Saat kita sedang makan jarang dari kita memperhatikan atau menghitung jumlah kunyahan. Asal makanan sudah relatif lembut maka langsung ditelan.

Lain cerita jika kita makan terburu-buru. Tidak perlu mengunyah sampe lembut, 3 atau 4x kunyahan langsung telan.

Apa efek mengunyah 32 kali?

Orang-orang yang tidak mengunyah makanan dengan tepat atau terbiasa buru-buru menelan makanan berisiko mengalami masalah pencernaan. Selain itu, ada juga risiko tersedak, dehidrasi, kembung, diare, asam lambung, mual, gangguan pencernaan sampai kekurangan gizi.

Melansir NDTV, ahli gizi asal AS bernama Horace Fletcher yang mencetuskan ide menguyah 32 kali.

Pada 1800-an silam, sosok berjuluk “The Great Masticator” ini melakukan eksperimen yang menunjukkan pentingnya mengunyah. Menurut penelitiannya, mengunyah 32 kali terkait dengan jumlah gigi manusia.

Mengunyah berkali-kali dapat mengubah makanan dari bertekstur padat menjadi lebih cair. Selama mengunyah 32 kali, aneka rasa makanan yang akan masuk ke perut juga jadi lebih netral.

Namun, jumlah tersebut tidak dianggap angka pasti.

Menurut Healthline, 32 merupakan rata-rata gigitan makanan dalam satu proses mengunyah. Saat mengunyah makanan seperti steak atau kacang, Anda memerlukan 40 kunyahan setiap suap. Sedangkan makanan yang lunak seperti semangka, boleh jadi makanan sudah tak tersisa begitu dikunyah 15 kali dalam setiap gigitan.

Terlepas dari keharusan berapa kalinya, mengunyah makanan merupakan langkah pertama pencernaan.

Pertama, dengan mengunyah, makanan akan dihancurkan dan bercampur dengan air liur di dalam mulut. Makanan yang sudah dihancurkan ini akan masuk ke dalam kerongkongan. Enzim di dalam air liur ini membantu memecah ikatan kimia di dalam makanan menjadi lebih sederhana yang biasanya ditandai dengan munculnya rasa asam.

Jadi jika makanan yang kita kunyah sudah berasa asam atau rasa dari makanan itu tidak lagi seperti rasa semula maka makanan tersebut sudah bisa ditelan.

Kedua, makanan yang masuk ke kerongkongan sudah dihancurkan, sehingga kerongkongan akan lebih mudah mendorongnya ke sistem pencernaan.

Ketiga, dengan mengunyah akan menyimpan makanan sehingga kita bisa tetap kenyang dalam waktu yang cukup lama.

Keempat, usus kecil akan mudah menyerap nutrisi dari makanan, saat makanan yang dikunyah masuk ke usus kecil dan bercampur dengan berbagai enzim penghancur.

Terakhir, dengan mengunyah makanan, maka makanan akan lebih mudah berubah menjadi kotoran yang nantinya akan kita keluarkan saat buang air besar.

Apa efek tidak mengunyah 32 kali?

Seperti dikutip dari Timesonline.co.uk, Kamis (9/12/2010) seseorang tak perlu mengunyah hingga 32 kali tapi cukup sebanyak 10-12 kali setiap kali suap.

Jumlah ini bervariasi pada setiap orang, tergantung dari ukuran makanan, jenis kelamin, usia dan faktor lainnya yang mempengaruhi produksi air liur.

Hal yang perlu diperhatikan adalah cara kita dalam mengunyah makanan, salah satunya adalah mengunyah secara perlahan.

Dengan mengunyah secara perlahan, maka bisa meningkatkan jumlah nutrisi yang kita dapatkan dari makanan.

Ahli gizi Stacey McIntosh dari University of Utah di AS menjelaskan, tidak ada patokan baku berapa kali idealnya saat mengunyah makanan. Ia mengatakan prinsipnya semakin banyak jumlah kunyahan, semakin sedikit beban kerja mekanis usus.

“Mengunyah makanan lima atau 25 kali setiap suapan tidak banyak memengaruhi makronutrien dan zat gizi mikro asupan,” jelasnya melansir laman resmi University of Utah Health.

Menurut catatan McIntosh, usus mampu menyerap 95-99 persen karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. “Cukup kunyah makanan kita dengan benar. Menghitung berapa kali jumlah kunyahan makanan itu sedikit obsesif,” kata dia.

Menurut McIntosh, proses mengunyah makanan yang tepat tidak tergantung berapa kali Anda mengunyah.

Hal yang paling penting adalah mengatur durasi atau waktu makan. Pasalnya, hormon tubuh membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk memberikan kode pada otak bahwa kita sudah kenyang.

Jika Anda menghabiskan makanan dalam waktu lima menit, otak otomatis masih ingin terus mengunyah karena belum merasa kenyang. Akan tetapi, jika Anda meluangan waktu 30 menit untuk satu sesi makan, praktis otak memberikan sinyal makanan sudah cukup.

Apa manfaat mengunyah lama (Tapi bukan 32 kali)?

1. Mengontrol jumlah makanan

Manfaat mengunyah makanan lebih lama bisa membantu mengontrol jumlah makanan. Hal ini disebabkan karena otak akan menyadari jumlah makanan yang dikonsumsi karena cara mengunyahnya.

Selain itu mengunyah makanan lebih lama juga membutuhkan waktu makan lebih lama. Sehingga hal ini akan membuat seseorang mengonsumsi makanan lebih sedikit dan merasa lebih cepat kenyang.

Cara ini menjadi sangat efektif dalam upaya penurunan berat badan. Secara tidak langsung, mengunyah makanan lebih lama juga akan menurunkan risiko obesitas, malas atau tidak suka beraktivitas, dan memicu depresi.

2. Mengurangi gas

Manfaat mengunyah makanan lebih lama ini akan nampak ketika makanan sudah diproses dengan sempurna.

Jika makanan sudah diproses dengan sempurna dalam perut, maka gas tidak akan menumpuk. Tanda dari makanan yang tidak dicerna dengan baik akan menimbulkan berbagai gejala. Seperti mulai timbul gas yang menyebabkan mual, kembung, sembelit, hingga maag.

3. Baik untuk kesehatan mulut

Semakin rutin mengunyah dengan benar, maka tulang rongga mulut dan gigi akan semakin kuat. Bahkan, senyawa hidrogen karbonat pada air liur dapat menetralkan pembentukan plak gigi. Plak akan ikut tersapu ketika gigi sedang mengunyah.

Air liur yang diproduksi saat mengunyah ternyata akan membersihkan partikel makanan dan bakteri yang ada di mulut. Sehingga penumpukan plak dan kerusakan gigi dapat teratasi/dicegah.

4. Mengoptimalkan kerja enzim

5. Optimalkan penyerapan nutrisi

Ada enzim lipase lingual yang berada di bawah lidah. Enzim ini muncul ketika mengunyah dan akan membantu pemecahan lemak. Sebab, jika lemak tidak dipecah maka akan memicu masalah pada pencernaan. Tidak hanya enzim, tetapi air liur juga akan membantu makanan mudah meluncur melalui kerongkongan.

Makanan tidak hanya mengandung lemak, tetapi juga mengandung banyak protein. Sama seperti lemak, protein ini juga harus dipecah menjadi asam amino. Asam amino inilah yang nantinya akan membantu tumbuh kembang tubuh dengan lebih maksimal. Proses mengunyah yang tidak benar hanya akan menjadi penghalang pemecahan protein.

Hal ini juga dibuktikan dalam penelitian yang diterbitkan dalam buku berjudul Obesity tahun 1926. Menurut penulisnya yakni dokter Leonard Williams mencatat, bahwa perut membutuhkan makanan yang benar-benar terkunyah hancur oleh gigi agar nutrisinya terserap sempurna.

6. Mencegah Diabetes

Diabetes dapat terjadi ketika lambung dan usus yang memproses makanan lama. Hal ini biasanya disebabkan karena tekstur makanan yang masuk kasar hingga menjadi salah satu penyebab diabetes.

Diabetes juga akan dipicu oleh kerja lambung dan usus. Proses makanan yang terlalu lama akan memperbanyak penyerapan insulin. Penyerapan insulin yang terlalu berlebihan dari makanan ke tubuh dengan jangka panjang akan meningkatkan risiko diabetes.

7. Memberikan waktu bagi perut untuk menyiapkan sistem pencernaan

Sistem dalam perut akan mulai bekerja ketika mulut Anda mulai mengunyah. Oleh karenanya, mengunyah lebih lama, membuat sistem dalam perut lebih siap mencerna makanan.

8. Membuat Anda lebih menikmati rasa makanan yang dikonsumsi

9. Menurunkan risiko keracunan makanan

Seperti yang telah dijelaskan di poin 3, air liur memiliki properti antibakteri.

Makin banyak Anda mengunyah, maka makin banyak pula air liur yang dihasilkan. Enzim dalam air liur akan membunuh bakteri dan mengurangi beban bakteri pada perut, yang kemudian menghasilkan asam lambung pembunuh patogen. Itulah mengapa mengunyah dengan benar akan meminimalkan risiko Anda terkena keracunan makanan.

Itulah konsep tentang mengunyah. Kesimpulannya adalah bukan berapa kali jumlah kunyahannya tetapi durasi mengunyahnya dan cara menguyahnya.

Sumber :

1. https://health.kompas.com

2. https://bobo.grid.id/read/082005937/mengunyah-makanan-disarankan-32-kali-apa-manfaat-mengunyah-makanan?page=all

3. https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/d-1514156/mengunyah-makanan-tak-perlu-hingga-32-kali

4. https://hot.liputan6.com/read/4292487/7-manfaat-mengunyah-makanan-lebih-lama-optimalkan-penyerapan-nutrisi

5. https://cantik.tempo.co/read/808862/mengunyah-makanan-32-kali-apa-manfaatnya/full&view=ok

6. https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3621198/bagaimana-cara-mengunyah-makanan-dengan-baik

7. https://kumparan.com/kumparanfood/riset-mengunyah-32-kali-bikin-pencernaan-lebih-sehat-1sPVjciUc4Q

8. http://risalahmutiaratauhid.blogspot.com/2012/08/ajaran-hidup-sehat-nabi-muhammad.html

9. https://cdn-cas.orami.co.id (Featured Image)

Leave a Reply