Press "Enter" to skip to content

Berapa Sih Tekanan Darah Yang Normal Bagi Orang Dewasa?

“Aku tekanan darahnya 150/90 enggak pusing tuh”

“Aku kok 120 sudah pusing banget ya”

“Aku kalo dicek rata-rata hanya 90, apakah normal ya?”

Itulah celetukan beberapa orang yang diukur tekanan darahnya.

Ada yang hitungannya tinggi namun tenang saja bahkan tidak merasakan pusing-pusing.

Ada yang di angka normal tetapi kok pusing-pusing.

Ada yang hanya 90 tapi kok sehat-sehat saja”

Sebenarnya berapa sih tekanan darah yang normal bagi orang dewasa?

Berikut ini artikel tentang tekanan darah yang dibuat oleh ITSTIME.ID yang dirangkum dari berbagai sumber. Sumber tertera di akhir artikel.

Pada masing-masing orang, tekanan darah ini bisa berbeda-beda karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia dan pola makan. Tekanan darah juga bisa bervariasi sepanjang hari karena adanya perubahan aktivitas. Pada malam hari sewaktu tidur, tekanan darah pada seseorang dikatakan berada di titik terendah.

Sementara, pada pagi hari setelah bangun tidur, tekanan darah berangsur-angsur naik dan biasanya mencapai puncaknya pada siang hari saat seseorang dihadapkan pada aktivitas yang padat dengan kemungkinan adanya stres.

Oleh karena itu, untuk menentukan dengan pasti adanya tekanan darah tinggi atau hipertensi pada seseorang, diperlukan minimal 3 pengukuran pada saat berlainan dengan selang minimal satu minggu. Pengulangan ini diperlukan untuk meniadakan faktor yang dapat meningkatkan tensi secara tiba-tiba, seperti kondisi stres, emosi, rasa letih, dan sebagainya.

dr. Rio Aditya menjelaskan bahwa sikap yang paling baik untuk mengukur tekanan darah adalah dalam keadaan duduk atau berbaring. Apabila terjadi perbedaan antara duduk dan berbaring, hal tersebut terjadi karena posisi jantung sejajar dengan tubuh, sehingga tidak membutuhkan tekanan yang besar untuk mencapai seluruh tubuh.

Berbeda saat Anda sedang berdiri, dimana jantung harus memberikan tekanan yang cukup untuk mencapai seluruh tubuh karena adanya gravitasi.

Tekanan darah dituliskan dengan 2 angka yang dipisahkan dengan garis miring, misalnya 120/80 mmHg dan umumnya, orang dewasa dengan kondisi tubuh sehat memiliki tekanan darah normal sekitar 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg. Angka 120 dan 90 menunjukkan tingkat tekanan ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh atau biasa disebut tekanan sistolik. Sementara angka 80 dan 60 berarti tingkat tekanan saat jantung beristirahat sejenak sebelum kembali memompa lagi, atau kerap disebut tekanan diastolik.

Semakin bertambah usia seseorang, semakin tinggi pula kisaran normal tekanan darahnya.

Tekanan darah menunjukkan seberapa kuat jantung memompa darah ke seluruh tubuh Anda. Ukuran ini merupakan salah satu tanda vital tubuh yang sering dijadikan acuan untuk melihat kesehatan tubuh secara umum dan harus dipantau secara berkala.

Tekanan darah normal bisa naik atau turun tergantung beberapa hal seperti berikut ini

– gaya hidup dan pola makan

– aktivitas fisik yang dijalani dan kondisi emosional 

– hamil, menstruasi, atau menopause

Ibu hamil yang sedang memasuki usia kehamilan di minggu ke-24 juga rentan mengalami tekanan darah rendah.

– enzim renin yang dihasilkan oleh ginjal dan faktor usia. 

– kondisi atau masalah kesehatan tertentu

Pada kasus yang jarang, beberapa kondisi atau penyakit tertentu bisa mempengaruhi kadar gula darah normal, di antaranya:

  • Mengalami stres yang mungkin menyita pikiran, terutama dalam jangka panjang.
  • Sudah berusia di atas 64-65 tahun, baik pada pria maupun wanita.
  • Memiliki penyakit jantung, seperti bradikardia (detak jantung yang sangat rendah), serangan jantung, penyakit katup jantung, atau gagal jantung bisa membuat tekanan darah rendah.
  • Penggunaan obat-obatan seperti pil KB, obat flu, dan obat pereda nyeri tanpa resep dokter bisa meningkatkan tekanan darah. Sementara, tekanan darah bisa menurun ketika menggunakan antidepresan, obat untuk disfungsi ereksi, dan obat penyakit Parkinson.
  • Memiliki penyakit diabetes, sleep apnea (gangguan tidur), masalah ginjal dan kelenjar tiroid, kelainan pembuluh darah juga bisa menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi. Pada orang yang memiliki anemia, masalah endokrin, septikemia (keracunan bakteri dalam darah), reaksi alergi terhadap antibiotik seperti penicilin, serta kekurangan vitamin B12 dan asam folat cenderung mengalami tekanan darah rendah.

Mengukur tekanan darah bisa dilakukan di klinik, puskesmas, rumah sakit, bahkan di rumah. Nah, langkah-langkah tes tekanan darah di rumah yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Sebelum mengecek tekanan darah, hindari konsumsi minuman berkafein dan olahraga dalam 30 menit sebelumnya. Cobalah untuk merelaksasikan tubuh selama 5 menit dan tenangkan pikiran.
  • Duduklah di kursi dengan punggung tegak dengan telapak kaki lurus ke bawah, tidak boleh disilangkan. Tempatkan lengan Anda di atas permukaan yang datar setinggi jantung Anda. Gunakan manset pengukur dan pastikan dilekatkan di atas lekukan siku.
  • Lakukan pengecekan tekanan darah secara berulang, misalnya 2 kali dengan jeda waktu 1-5 menit. Anda bisa lakukan tes tekanan darah pada dua sisi lengan tangan. Pasalnya, tekanan darah lengan kanan dengan lengan kiri bisa berbeda dan ini menjadi tanda akan terjadi serangan jantung.
  • Anda bisa mengukur tekanan darah secara rutin dan mandiri ini di waktu yang sama, seperti pagi dan sore hari. Biasanya, pengecekan tekanan darah rutin dilakukan 2 minggu setelah menjalani perubahan pengobatan atau selama seminggu sebelum cek kesehatan ke dokter, terutama Anda yang punya kondisi kesehatan tertentu.

Tekanan darah normal pada dewasa

Melansir dari Buku Obat-Obatan Penting (2015) oleh Drs. Tan Hoan Tjay & Drs. Kirana Rahardja, orang dewasa dengan kondisi tubuh sehat memiliki tekanan darah normal sekitar 120/80 mmHg.

Berikut ini klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa lebih lanjut:

Tekanan darah rendah. Kondisi yang tergolong tekanan darah rendah atau hipotensi yaitu ketika berada di bawah angka normal yaitu sekitar 90/60 mm Hg atau lebih rendah.

Tekanan darah tinggi. Tensi darah berkisar antara 120-129 sistolik dan diastolik kurang dari 80 mm Hg. Orang dengan tekanan darah ini, harus mengontrol gaya hidupnya agar tidak menjadi hipertensi (kondisi tekanan darah tinggi).

Hipertensi stadium 1. Pada kondisi ini, tensi darah berkisar antara 130-139 sistolik atau diastolik 80-89 mm Hg. Dokter biasanya akan merekomendasikan perubahan gaya hidup dan mungkin meresepkan obat penurun tekanan darah, untuk menurunkan risiko penyakit jantung.

Hipertensi stadium 2. Tensi darah berkisar 140/90 mm Hg atau lebih tinggi. Pada kondisi ini, dokter akan meresepkan kombinasi obat penurun tekanan darah tinggi dan perubahan gaya hidup yang lebih sehat.

Krisis hipertensi. Saat  tensi darah melebihi 180/120 mm Hg, dikategorikan sebagai krisis hipertensi atau hipertensi emergensi. Biasanya untuk memastikan, dilakukan dua kali pemeriksaan dengan jeda 5 menit.

Tekanan darah normal bisa naik atau turun tergantung aktivitas fisik yang Anda jalani dan kondisi emosional yang tengah Anda alami.

Pada ibu hamil, perubahan hormonal menyebabkan kisaran tekanan darah menjadi lebih rendah. Bahkan pada ibu hamil, tekanan darah 120/80 mmHg sudah termasuk kategori harus berhati-hati akan risiko preeklamsia.

Tekanan darah normal pada usia lanjut

Tekanan darah normal pada orang lanjut usia (lansia) cenderung lebih tinggi, yaitu itu < 150 mmHg untuk tekanan sistolik dan < 90 mmHg untuk tekanan diastolik. Hal ini disebabkan pembuluh darah pada lansia cenderung lebih kaku, sehingga jantung memerlukan tekanan lebih tinggi untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Jika tekanan darahnya terlalu rendah, lansia malah bisa mengalami pusing dan hipotensi ortostatik sehingga meningkatkan risiko jatuh dan cedera.

Tekanan darah memang harus dipantau secara berkala guna mencegah terjadinya tekanan darah tinggi (hipertensi) atau justru tekanan darah rendah (hipotensi). Hal ini karena baik hipotensi maupun hipertensi bisa tidak bergejala, sehingga dikhawatirkan kondisi ini tidak terdeteksi dan menimbulkan berbagai macam komplikasi.

Berdasarkan data Riskesdas yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi pada tahun 2013 adalah sebesar 25,8%. Menurut Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas), terjadi peningkatan sebesar 32,4% pada prevalensi hipertensi untuk penduduk usia 18 tahun ke atas.

Hipertensi

Anda dikatakan terkena hipertensi ketika tekanan darah Anda 130/80 mmHg atau lebih. Kenyataannya, kondisi yang membahayakan jiwa ini kerap tidak menampakkan gejala, sehingga banyak pengidapnya yang tidak tahu jika mereka mengalami hipertensi.

Melansir Buku Bebas Hipertensi Tanpa Obat (2012) oleh Lanny Lingga, PhD, sebagain besar hipertensi terjadi karena faktor penyebab yang tidak jelas. Sekitar 90-95 persen hipertensi merupakan hipertensi primer yang tidak jelas penyebabnya. Tekanan darah tinggi tipe pertama ini diduga terjadi karena kombinasi beberapa macam penyebab, seperti:

– Kadar nitrogen monoksida yang rendah

– Resistansi insulin

– Obesitas Difisiensi kalium (hypokalemia)

– Sensitivitas terhadap sodium

– Konsumsi alkohol

– Kekurangan vitamin D

– Pertambahan usia

– Riwayat keluarga

– Peningkatan renin atau enzim yang dihasilkan ginjal

– Saraf simpatik terlalu aktif

– Resistensi insulin

– Bobot badan saat lahir di bawah normal

Hanya sebagain kecil hipertensi terjadi karena beberapa sebab yang jelas. Tekanan darah tinggi dengan penyebab yang jelas masuk dalam kelompok hipertensi sekunder.

Berikut ini beberapa faktor penyebab hipertensi sekunder:

– Berbagai penyakit ginjal, termasuk tumor pada ginjal atau preochromocytoma

– Hipertensi gentantinal atau hipertensi yang terjadi pada masa kehamilan

– Gangguan endokrin (chusing syndrome)

– Gangguan tidur (sleep apnea)

– Mengonsumsi obat antinyeri nonsteroid (NSAIDs), seperti ibupropen

– Mengonsumsi pil KB

– Mengonsumsi obat tertentu, seperti pseudoephedrine, kortikosteroid, siklopropen, eritoproten, dan beberapa macam obat-obatan bebas

– Melakukan terapi sulih hormon (hormone replacement therapu) dan steroid

– Mengonsumsi kokain dan nikotin

– Mengonsumsi herba akar manis untuk waktu yang lama

Hipertensi yang tidak ditangani dengan baik bisa memicu penyakit mematikan seperti stroke dan serangan jantung, selain itu juga bisa mengganggu penglihatan, dan menyebabkan kerusakan fatal organ lain seperti ginjal.

Orang-orang yang berisiko terkena hipertensi antara lain adalah mereka yang kelebihan berat badan, perokok, berusia di atas 55 tahun, pecandu minuman beralkohol, jarang berolahraga, dan suka mengonsumsi makanan yang asin dan rendah kandungan kalium dan kalsium. Selain itu, mereka yang memiliki anggota keluarga yang menderita hipertensi, diabetes atau penyakit jantung juga lebih berisiko.

Hipotensi

Kondisi ini terjadi ketika tekanan darah Anda di bawah 90/60 mmHg. Umumnya, tekanan darah rendah, meski kronis sekalipun, tidak berbahaya jika penderita tidak mengalami gejala-gejala seperti mual, pusing, kelelahan, kehausan, penglihatan tidak jelas, pernapasan menjadi cepat dan dangkal, kurang konsentrasi, dan pingsan.

Meski tergolong ringan, tekanan darah yang terlalu rendah bisa memicu kerusakan jantung dan otak. Berikut hal-hal yang bisa memicu hipotensi:

– Dehidrasi.

– Kehamilan.

– Anemia.

– Ketidakseimbangan hormon misalnya menderita penyakit Addison.

– Menderita alergi atau infeksi

– Berlebihan mengonsumsi minuman beralkohol.

– Kehilangan banyak darah.

Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat Parkinson, sildenafil (Viagra) dan sejenisnya, obat antidepresan, dan beberapa obat yang memengaruhi langsung otot pembuluh darah seperti beta dan alfa bloker.

Gangguan jantung.

Tips untuk Dapatkan Tekanan Darah Normal

Bagi yang memiliki darah tinggi, Anda bisa memiliki tekanan darah normal dengan melakukan hal berikut:

– Berolahraga

Aktivitas fisik bisa merangsang tubuh untuk memproduksi asam nitrat. Zat ini bisa membuat pembuluh darah terbuka sehingga mengurangi tekanan darah. Dengan berolahraga berarti Anda menguatkan otot jantung, mengurangi stres dan terhindar dari obesitas, salah satu pemicu hipertensi.

– Penggunaan garam yang seimbang

Kita ketahui bersama kalau tubuh manusia hanya membutuhkan 500 mg garam perhari untuk menjaga ukuran tensi normal. Terdapat rekomendasi baru kalau tubuh ini harus dibatasi dalam asupan garamnya menjadi kurang dari 1 sendok teh. Karena konsumsi garam berlebih dapat meningkatkan tekanan darah Anda yang dapat berujung pada beberapa penyakit seperti hipertensi, stroke, hingga penyakit jantung.

– Terapkan pola makan sehat dan gizi seimbang

Konsumsilah makanan yang sehat agar terhindar dari hipertensi. Makanan yang disarankan yaitu sayur, buah, ikan, daging unggas, kacang, susu rendah lemak dan biji-bijian utuh.

  • Sayuran hijau: sayuran hijau mengandung kalium yang sangat tinggi. Selain itu, kalium juga membantu ginjal untuk menghilangkan kadar sodium dari tubuh, lewat urine.
  • Buah bit: buah-buahan berwarna merah ini mengandung nitric oxide, yang bisa membuka pembuluh darah, sehingga tekanan darah menjadi normal.
  • Pisang: dibandingkan mengonsumsi suplemen kalium, lebih baik Anda mengonsumsi “pabriknya” langsung, yakni pisang. Pisang sangat kaya akan kalium, sehingga bisa membantu Anda memiliki tekanan darah normal.

– Hindari stres berlebihan

Tidak sulit mengatasi stres, Anda dapat belajar teknik untuk menenangkan pikiran seperti teknik pernapasan, meditasi atau relaksasi otot.

– Berhenti merokok dan hindari konsumsi alkohol berlebih

Merokok dapat meningkatkan tekanan darah Anda. Selain itu konsumsi terlalu banyak alkohol dapat meningkatkan tekanan darah.

– Mengonsumi obat yang sesuai dengan instruksi dokter

Sedangkan bagi yang memiliki tekanan darah rendah, beberapa hal di bawah dapat dilakukan untuk meningkatkan tekanan darah:

  • Banyak minum air
    Selain mencegah dehidrasi, cairan juga dapat meningkatkan tekanan darah. Oleh karenanya, cukupkan kebutuhan cairan harian Anda setiap hari.
  • Tambahkan garam dalam makanan
    Kebalikan dengan penderita darah tinggi yang harus membatasi konsumsi garam, penderita darah rendah dapat menggunakan garam lebih banyak. Walau demikian, konsultasikan dengan dokter tentang berapa jumlah yang dapat Anda konsumsi.
  • Menggunakan stoking khusus
    Stoking elastis khusus dapat digunakan untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan akibat varises yang berujung pada pengurangan pengumpulan darah di daerah kaki.

Bila memungkinkan, Anda bisa secara rutin memantau tekanan darah secara mandiri di rumah. Jika tekanan darah Anda berada di atas atau di bawah rentang tekanan darah normal berdasarkan usia, sebaiknya segera periksakan diri Anda ke dokter.

Bonus informasi

Tekanan darah normal pada bayi dan anak

Anak-anak cenderung memiliki tekanan darah yang lebih rendah ketimbang orang dewasa. Jadi, ini menunjukkan semakin muda usia seseorang, tekanan darah yang dimilikinya juga semakin rendah. Pada anak, tekanan darah normalnya berkisar antara:

  • Pada bayi yang baru lahir, angka sistolik sekitar 60-90 dan angka diastoliknya 20-60 mm Hg.
  • Pada bayi, angka sistoliknya sekitar 87-105 dan angka diastoliknya 53-66 mm Hg.
  • Pada bayi usia 1 hingga 3 tahun, angka sistoliknya sekitar 95-105 dan angka diastoliknya 53-66 mm Hg.
  • Pada anak usia 3 sampai 7 tahun, angka sistoliknya sekitar 95-110 dan angka doastoliknya 56-70 mm Hg.
  • Pada anak usia sekolah, angka sistoliknya 97-112 dan angka diastoliknya 57-71 mm Hg.
  • Pada anak remaja, angka sistoliknya 112-128 dan angka diastoliknya 66-80 mm Hg.

Tekanan darah normal pada remaja

Pada remaja usia 13–18 tahun, batas normal tekanan sistoliknya berkisar antara 112–128 mmHg dan diastolik berkisar antara 66–80 mmHg. Variasi tekanan darah di dalam batas normal seorang remaja dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, misalnya tinggi badan, jenis kelamin, dan waktu pengukuran tekanan darah.

Sumber :

1. https://www.alodokter.com

2. https://www.alodokter.com/berapa-tekanan-darah-normal-orang-dewasa

3. https://health.kompas.com/read/2020/05/20/200500168/berapa-tekanan-darah-normal-pada-orang-dewasa?page=all

4. https://lifepack.id/mengetahui-tekanan-darah-normal-pada-orang-dewasa/

5. https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3485032/kenali-tekanan-darah-normal-sesuai-jenjang-usia

6. https://www.sehatq.com/artikel/berapa-tekanan-darah-normal-ketahui-jawabannya-di-sini

7. https://hellosehat.com/jantung/tekanan-darah-normal/#gref

8. https://awsimages.detik.net.id (Featured Image)

Be First to Comment

    Leave a Reply