Press "Enter" to skip to content

Kenali Gejala, Tanda Dan Tindakan Kekurangan Zat Besi Pada Bayi

Memiliki bayi terutama anak pertama jelas menjadi kebahagiaan terbesar pasangan yang baru menikah. Dan sebagai orang tua baru pastinya akan belajar secara serius tentang segala tetek bengek pertumbuhan bayi.

Salah satu yang seharusnya menjadi perhatian khusus adalah tentang zat besi pada bayi karena memenuhi kebutuhan zat besi untuk bayi sangat penting untuk menunjang kesehatan dan tumbuh kembangnya.

Kabar kurang baiknya adalah hingga saat ini, kekurangan zat besi pada bayi masih menjadi salah satu masalah gizi terbanyak di dunia. Tanpa zat besi yang cukup, bayi dapat mengalami anemia dan gangguan tumbuh kembang.

Zat besi adalah nutrisi yang sangat penting untuk tubuh dalam pembentukan hemoglobin, yakni komponen sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen berjalan dari paru-paru ke seluruh tubuh. Tanpa zat besi yang cukup, tubuh tidak dapat membentuk hemoglobin. Akibatnya, jaringan dan organ tubuh bisa mengalami kekurangan oksigen. Jika ASI atau MPASI yang diberikan ke bayi kurang mengandung zat besi, si kecil akan berisiko mengalami anemia.

Anemia atau biasa disebut anemia defisiensi besi merupakan suatu kondisi di mana darah tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat. Kekurangan zat besi yang mengarah pada anemia jika tidak diobati dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko bayi kekurangan zat besi, yaitu:

  • Terlahir dari ibu yang mengalami anemia selama hamil.
  • Terlahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah.
  • Bayi mendapat ASI dari ibu yang kekurangan zat besi.
  • Gangguan penyerapan zat besi.
  • Bayi minum susu formula yang tidak diperkaya (difortifikasi) zat besi.
  • Anak yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti infeksi kronis atau pola makan yang dibatasi
  • Anak-anak yang tidak cukup makan makanan kaya zat besi
  • Anak-anak yang kelebihan berat badan atau obesitas

American Academy of Pediatrics merekomendasikan setiap bayi dilakukan skrining pemeriksaan darah untuk kondisi anemia defisiensi besi pada usia 9 bulan dan 12 bulan, serta bagi yang memiliki faktor risiko maka diperlukan pemeriksaan kembali pada usia lebih lanjut.

Tanda dan Gejala Kekurangan Zat Besi pada Bayi

Ada beberapa tanda dan gejala lain yang dapat dialami bayi jika ia kekurangan zat besi, yaitu:

1. Kulit Pucat

Apabila anak kekurangan zat besi, maka ia juga berisiko mengalami anemia. Nah, kulit pucat ini terjadi karena kandungan hemoglobin pada darah anak jumlahnya tidak cukup.

Warna merah darah memberi rona merah pada kulit, sehingga warnanya tidak terlalu pucat. Pada anak yang kekurangan zat besi, jumlah darah di tubuhnya kurang, sehingga kulitnya akan terlihat pucat.

2. Kelelahan dan tampak kurang aktif atau jarang mau bermain.

Kelelahan merupakan salah satu tanda anak kekurangan zat besi. Saat zat besi kurang, oksigen di dalam tubuh tidak tersebar dalam jumlah rata ke seluruh tubuh. Alhasil, si kecil kelihatannya jadi cepat capek dan lelah saat Anda ajak main.

3. Tangan dan Kaki Dingin

Saat kaki dan tangan bayi terasa dingin, tidak hangat, ini bisa menjadi tanda bahwa si kecil kekurangan zat besi. Dinginnya tangan dan kaki ini disebabkan karena oksigen yang tidak terpenuhi. Kurangnya zat besi dalam tubuh bisa membuat penyebaran oksigen di seluruh tubuh tidak merata.

4. Pertumbuhan dan Perkembangannya Terlambat

Saat kandungan zat besi pada bayi kurang, perkembangan dan pertumbuhan anak akan terhambat. Pasalnya, zat besi yang kurang akan memengaruhi jumlah darah di dalam tubuh bayi. Darah membawa banyak nutrisi ke seluruh tubuh. Jika kurang darah, organ tubuh bayi jadi tidak bekerja secara maksimal. Alhasil, perkembangan bayi Anda jadi terlambat.

5. Pernapasan Bayi Tidak Lancar

Saat zat besi pada bayi kurang, maka pasokan darah dan oksigen dalam tubuh si kecil berkurang. Pada akhirnya, bayi Anda rentan mengalami sesak napas. Ini karena kadar oksigen dan darah yang diedarkan paru-paru ke sistem pernapasan tubuh jumlahnya kurang.

6. Lidah membesar atau bengkak.

7. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah atau sering terkena infeksi.

Saat kekurangan zat besi, daya tahan tubuh bayi akan menurun. Hal ini membuat ia lebih rentan mengalami infeksi terus-menerus. Contohnya, bayi tidak henti-hentinya mengalami batuk, pilek, demam, dan diare scecara bergantian.

8. Tidak nafsu makan.

9. Berat badan sulit naik

Jika bayi kekurangan zat besi, tubuhnya akan berusaha lebih keras untuk memperoleh oksigen. Hal ini bisa menguras energi bayi, sehingga kekuatannya untuk menyusu juga berkurang. Jika seperti itu, berat badannya akan sulit untuk naik, bahkan bisa turun.

Kebutuhan Zat Besi pada Bayi

Saat dilahirkan, bayi memiliki cadangan zat besi yang berasal dari darah ibu. Oleh karenanya, pola makan dan asupan nutrisi ibu selama kehamilan saat penting bagi kecukupan zat besi bayi.

Edukasi LENGKAP Tentang Hemoglobin Bagi Ibu Hamil : Pengertian, Penyebab, Bahaya Hingga Pencegahan HB Rendah

Dalam enam bulan pertama kehidupannya, bayi akan memperoleh zat besi dari ASI. Setelah enam bulan, ASI saja tidak cukup untuk memenuhi nutrisi bayi. Oleh karena itu, pada usia ini bayi membutuhkan tambahan zat besi dari makanan padat (MPASI). Prof. DR. dr. Saptawati Bardosono, MSc, seorang profesor gizi medik menyatakan bahwa ASI hanya mampu memenuhi kurang dari 10 persen kebutuhan zat besi untuk bayi setelah berusia 6 bulan.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik (PMK) Indonesia No. 28 tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia, nilai kebutuhan zat besi harian pada setiap orang dapat berbeda, tergantung usia dan faktor risiko.

Berikut ini angka kecukupan gizi (AKG) zat yang dianjurkan untuk kelompok bayi dan anak per orang per hari:

Usia 0-5 bulan: 0,3 mg (dari ASI)

Usia 6-11 bulan: 11 mg

Usia 1-3 tahun: 7 mg

Usia 4-6 tahun: 10 mg

Usia 7-9 tahun: 10 mg

Laki-laki

10-12 tahun: 8 mg

13-15 tahun: 11 mg

16-18 tahun: 11 mg

Perempuan

10-12 tahun: 8 mg

13-15 tahun: 15 mg

16-18 tahun: 15 mg

Prof. DR. dr. Saptawati Bardosono, MSc atau yang akrab disapa Prof. Tati mengungkapkan, “Sering kali orangtua lebih memerhatikan kandungan karbohidrat dan hanya memasukkan sayur tanpa benar-benar menghitung asupan zat besi serta gizi lainnya pada MPASI.”

Bayi yang berusia kurang dari 6 bulan belum bisa makan makanan padat. Itu sebabnya, apabila dari ASI saja belum cukup, kekurangan zat besi pada bayi bisa diatasi dengan penggunaan suplemen atas rekomendasi dokter. Pemberian suplemen hanya boleh diberikan saat bayi sudah menginjak usia tiga bulan, berupa sirup atau tetes.

Prof. Tati menyarankan untuk tidak memberikan suplemen pada bayi yang sudah berusia 6 bulan.

“Suplemen untuk bayi yang sudah bisa makan MPASI baru boleh diberikan jika pemberian MPASI kaya zat besi tidak juga mempan,”

Untuk mencukupi kebutuhan zat besi pada bayi, orang tua dapat memberikan MPASI dari makanan yang kaya akan zat besi, seperti:

  • Daging sapi, kambing, ayam, atau ikan.
  • Hati ayam atau hati sapi.
  • Telur.
  • Sayuran, seperti bayam, keciwis, brokoli.
  • Kacang-kacangan, seperti kacang polong, kacang merah dan kedelai.
  • Tahu dan tempe.
  • Sereal yang difortifikasi zat besi.
  • oatmeal.

Zat besi terbaik berasal dari sumber makanan hewani karena lebih mudah diserap tubuh. Namun apabila tidak bisa memberikan bayi zat besi hewani, sayuran berdaun hijau yang banyak mengandung zat besi pun bisa menjadi pilihan.

Tips Memenuhi Kebutuhan Zat Besi pada Bayi

Untuk mencukupi kebutuhan zat besi pada bayi, berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan:

1. Berikan makanan yang mengandung vitamin C

Makanan kaya vitamin C, seperti tomat, strawberry, papaya, jambu, dan jeruk, baik untuk diberikan bersama MPASI yang mengandung zat besi. Selain itu juga bisa memberikan sayuran dalam MPASI seperti brokoli atau labu. Hal ini karena vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi oleh tubuh.

2. Batasi pemberian susu sebagai sumber asupan zat besi

Susu memang mengandung gizi, namun bukanlah sumber zat besi yang baik. Jangan berikan susu sapi sebelum Si Kecil berusia 1 tahun karena akan sulit dicerna. Bila diberikan setelah usia 1 tahun, porsinya pun perlu dibatasi, yaitu tidak lebih dari 700 ml per hari, dan usahakan untuk memilih susu yang sudah difortifikasi zat besi.

3. Hindari pemberian MPASI yang mengandung zat besi bersama susu

Pemberian makanan yang mengandung zat besi sebaiknya tidak dibarengi dengan minum susu sapi atau teh.  Kandungan kalsium yang tinggi pada susu dapat menghambat penyerapan zat besi dari MPASI. Sementara teh mengandung tannin yang juga dapat menghambat penyerapan zat besi. Solusinya, berikan susu sapi atau teh di luar waktu makan utama.

4. Berikan suplemen zat besi

Apabila dirasa kurang, zat besi untuk bayi bisa diperoleh melalui suplemen. Suplemen zat besi juga disarankan untuk diberikan kepada bayi yang terlahir prematur atau terlahir dari ibu yang menderita anemia saat hamil. Akan tetapi, pemberian suplemen zat besi pada bayi harus berdasarkan resep dari dokter anak.

5. Konsultasi dengan dokter

Konsultasi dengan dokter spesialis untuk mendiagnosis kondisi kekurangan zat besi bayi. Dokter akan memberikan daftar makanan, susu, atau vitamin apa yang baik untuk mencegah kekurangan zat besi pada bayi.

Apakah sudah waktunya memberikan suplemen zat besi untuk anak Anda?

Jangan memberikan suplemen zat besi untuk anak tanpa anjuran medis.

Bila Anda merasa khawatir terhadap kesehatan Si Buah Hati, konsultasikan hal ini dengan dokter anak dan periksalah kondisinya secara rutin. Dengan begitu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut atau anjuran konsumsi suplemen zat besi bila dibutuhkan.

Ada berbagai bentuk suplemen zat besi untuk anak, yaitu tetes, sirup, tablet kunyah, jeli, dan bubuk. Ikuti aturan penggunaan yang tertera pada kemasan, atau sesuai petunjuk dokter. Berdasarkan anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia, dosis suplemen zat besi yang disarankan untuk anak adalah sebagai berikut:

  • Bayi berat badan lahir rendah: 3 mg/kgBB/hari, diberikan sejak usia 1 bulan hingga 2 tahun
  • Bayi cukup bulan: 2 mg/kgBB/hari, diberikan sejak usia 4 bulan hingga 2 tahun
  • Anak usia 2-5 tahun: 1 mg/kgBB/hari, diberikan sebanyak 2 kali/minggu selama tiga bulan berturut-turut setiap tahun
  • Anak >5 tahun hingga 12 tahun: 1 mg/kgBB/hari, diberikan sebanyak 2 kali/minggu selama tiga bulan berturut-turut setiap tahun
  • Remaja usia 12-18 tahun: 60 mg/hari, diberikan sebanyak 2 kali/minggu selama tiga bulan berturut-turut setiap tahun

Konsumsi suplemen zat besi dapat menimbulkan efek samping berupa sakit perut, perubahan warna tinja, hingga sembelit. Meski demikian, pemberian suplemen zat besi untuk anak tetaplah aman selama dosisnya sesuai dengan ketentuan. Guna menjauhkan buah hati Anda dari anemia zat besi dan komplikasinya, jangan lupa melengkapi asupan hariannya dengan beragam makanan dengan gizi seimbang.

Sumber :

1. https://www.alodokter.com/kebutuhan-zat-besi-untuk-bayi

2. https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3636553/ketahui-gejala-kekurangan-zat-besi-pada-bayi

3. https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/ciri-bayi-kekurangan-zat-besi/#gref

4. https://hellosehat.com/parenting/anak-1-sampai-5-tahun/suplemen-zat-besi-untuk-anak/

5. https://health.kompas.com/read/2020/10/13/180000068/3-penyebab-kekurangan-zat-besi-pada-anak-dan-cara-mengatasinya?page=all

6. https://covesia.com/assets/foto/berita/20191205123302.jpg (Featured Image)

Be First to Comment

    Leave a Reply