Press "Enter" to skip to content

Nomophobia : Ketakutan Generasi Milenial Akibat Jauh Dari Handphone

Bagi kalangan milenial kemungkinan besar mending tidak membawa dompet dibanding tidak membawa handphone.

Selain karena handphone juga sudah ada fitur pembayaran digital, hanpdhone bisa digunakan untuk mengisi waktu luang jika kita sedang menunggu sesuatu.

Tanpa membawa handphone, kita seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Bengong.

Tetapi kondisi itu bukanlah kondisi yang baik karena ternyata ada sindrom sendiri terkait ketakutan jika kita jauh atau tidak membawa handphone.

Sindrom tersebut adalah Nomophobia.

Berikut ini artikel lengkap tentang Nomophobia yang dirangkum dari berbagai sumber.

Pengertian nomophobia

Nomophobia (no mobile phone phobia) adalah salah satu bentuk phobia atau keta­kutan yang terjadi bagi seseorang jika satu detik saja tidak memegang handphone karena faktor-faktor seperti hilangnya sinyal maupun kehabisan baterai maka dia akan stres, muncul  rasa cemas, khawatir, bingung atau bahkan gelisah tanpa diketahui sebab musababnya. Mereka yang terkena nomophobia dikenal dengan nomophobian.

Layaknya pecandu narkoba, mereka yang terkena penyakit ini tidak dapat dengan mudah terlepas dari gadget terutama smartphone ­kapan, dan di manapun berada.

YouGov -sebuah organisasi penelitian di Inggris- pada tahun 2010 mempelajari perilaku pengguna ponsel.

Studi ini menemukan bahwa sebanyak 53% pengguna ponsel cenderung merasa cemas saat mereka kehilangan ponsel atau berada di luar jaringan internet.

66% populasi manusia telah menderita nomophobia, dengan 77% remaja usia 18-24 tahun. Dan 68% orang dewasa berumur 25-34 tahun.

Kini, penderita nomophobia sebanyak 70% wanita dan 66% laki-laki di dunia.

Menurut hasil penelitian lain dari para ahli psikolog disebutkan bahwa sekitar 72% dari hampir 1.000 pelajar sudah memiliki ponsel atau smartphone sendiri. Kisaran umur mereka di antara 11-12 tahun.

Para pelajar tersebut biasanya menghabiskan waktu untuk bermain ponsel rata-rata 5-6 jam sehari. Dari hasil tersebut pun terungkap bahwa 25% anak-anak menunjukkan gejala penyakit nomophobia ini. Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mengindikasikan kalau anak-anak terkena nomophobia.

Penyebab Nomophobia

Berikut ini sejumlah faktor yang dapat berpotensi memicu nomophobia:

– Ponsel dipakai sebagai penunjang aktivitas

Menggunakan ponsel untuk menunjang kegiatan harian Anda sebenarnya wajar dilakukan, mengingat fungsinya yang sangat berguna untuk melakukan hal-hal seperti menjalankan bisnis, belajar, hingga mengelola uang.

Kondisi tersebut membuat orang tidak bisa hidup tanpa ponsel mereka. Tanpa ponsel, orang-orang akan merasa terputus dan terisolasi dari aspek penting dalam kehidupan, termasuk teman, keluarga, pekerjaan, keuangan, dan akses informasi.

– Banyaknya waktu yang dihabiskan untuk bermain ponsel

Dalam studi yang diterbitkan dalam Journal of Behavioral Addictions pada tahun 2014, mahasiswa umumnya menggunakan ponsel selama 9 jam dalam sehari. Smartphone memang memberikan banyak manfaat positif, tapi di sisi lain juga dapat menyebabkan ketergantungan dan memicu stres.

– Keakraban dengan teknologi

Menurut National Institute on Drug Abuse (NIDA), kecemasan untuk berpisah dengan ponsel ini cenderung terjadi pada remaja dan generasi milenial. Hal ini terjadi karena kelompok usia tersebut lahir dan dibesarkan di era digital teknologi. Oleh sebab itu, ponsel seakan sudah menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan mereka sehari-hari

Gejala Nomophobia

Berikut ini gejala fisik yang mungkin akan dialami oleh penderita nomophobia:

  • Berkeringat
  • Sakit kepala
  • Sesak di dada
  • Tubuh gemetaran
  • Detak jantung menjadi lebih cepat
  • Kesulitan bernapas dengan normal

Sementara itu, gejala emosional nomophobia meliputi:

  • Panik dan cemas ketika tidak bisa menemukan ponsel yang dibawa
  • Stres dan cemas saat tidak bisa mengecek ponsel dalam waktu tertentu
  • Muncul rasa khawatir, panik, dan takut ketika lupa membawa atau tidak bisa memakai ponsel
  • Merasa cemas dan gelisah saat tidak memegang atau tidak bisa menggunakan ponsel untuk sementara waktu
  • Stres dan takut ketika jaringan data atau sambungan wi-fi tidak bisa digunakan
  • Melewatkan aktivitas yang telah direncanakan karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermain ponsel

Ciri-ciri nomophobia

Ada beberapa ciri seseorang penderita nomophobia yang sering dilihat di sekitar kita,

1. masing-masing mereka selalu membawa smartphone ke mana pun pergi seperti  ke pasar, kebun, sungai, toilet, dan tempat rapat atau tempat lainnya yang tidak lajim, kadang-kadang mereka melawan kodrat sebagai mahluk sosial atau dengan kata lain kurang bersosialisasi di dunia nyata.

2. kadang-kadang lebih memilih mengutak-atik smartphone dibanding memilih makan, hingga orang waras di sekitarnya sering menyebut makanan sehari-hari orang seperti ini adalah handphone.

3. pada saat waktu belajar lebih mengutamakan smartphone daripada buku pelajaran, sebentar-sebentar melihat ke layar smartphone, kapan, dan ke ­manapun pergi selalu membawa charger atau powerbank karena takut smartphonenya mati, kemudian ketika smartphone-nya mati, pecandu akan tergesa-gesa mencharger smartphone-nya,

4. sering mengecek ponsel di tengah-tengah obrolan dan kerap mengecek ponsel hanya untuk melihat sesuatu yang update di media sosial

5. Mengecek smartphone setiap saat, bahkan saat terbangun di malam hari dan bangun pagi.

6. Merasa tidak nyaman saat smartphone tidak berada di dekatnya, termasuk saat tidur.

7. Menghindari interaksi sosial demi menghabiskan waktu dengan smartphone.

8. Penurunan performa kerja atau akademis akibat aktivitas menggunakan smartphone.

9. Sering merasakan getaran smartphone atau “phantom vibration” padahal tidak ada. Hal ini memancing si Pengguna selalu memeriksa handphone-nya.

10. pecandu akut mengakibatkan bungkuk pada punggung, dan sakit mata.

Cara mengatasi nomophobia

Berikut ini sejumlah terapi yang biasa dipakai untuk membantu mengatasi gejala nomophobia:

1. Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT) dapat membantu Anda belajar mengelola pikiran dan perasaan negatif yang muncul ketika tidak memegang ponsel. Melalui CBT, Anda diajak belajar menantang pikiran-pikiran negatif secara logis.

2. Terapi pemaparan

Terapi ini membantu Anda belajar menghadapi ketakutan melalui pemaparan secara bertahap. Dengan menghindari ponsel, ketergantungan dan ketakutan yang Anda rasakan akan perlahan menghilang. 

Cara ini mungkin akan terasa sangat berat dan menakutkan di awal, apalagi jika Anda memakai ponsel untuk tetap berhubungan dengan orang-orang tersayang. Tujuan dari terapi pemaparan bukanlah untuk menghindari penggunaan ponsel sepenuhnya, namun belajar mengatasi rasa takut yang muncul ketika tidak memegangnya.

3. Terapi obat

Untuk mengatasi gejala nomophobia, dokter atau psikiater mungkin akan meresepkan obat anti-kecemasan atau antidepresan.

Beberapa obat yang biasa dipakai untuk membantu mengatasi gejala awal kecemasan dan depresi seperti Lexapro, Zoloft, dan Paxil.

4. Mematikan ponsel di malam hari dan menjauhkan dari jangkauan

5. Meninggalkan ponsel di rumah ketika keluar rumah dalam waktu singkat

6. Meluangkan waktu untuk menghindar dari teknologi dengan melakukan kegiatan seperti berjalan-jalan, menulis, atau membaca buku

7. Memberi perhatian lebih besar pada kehidupan nyata dibandingkan kehidupan maya

Sumber :

1. https://itjen.kemdikbud.go.id/public/post/detail/nomophobia

2. https://www.sehatq.com/artikel/nomophobia-adalah-ketakutan-tidak-bisa-menggunakan-ponsel-bisakah-diatasi

3. https://saintif.com/apa-itu-nomophobia/

4. https://www.guesehat.com/nomophobia-bisa-terjadi-pada-siapa-saja-bagaimana-mengatasinya

Be First to Comment

    Leave a Reply