Categories
Speak Up

Terapi Tortikolis Di RSU Sakina Idaman Bukan Sama Fisioterapis Tapi Ada Jasa Fisioterapi

Pengirim Bpk A di Yogyakarta

Ceritanya saya membawa bayi saya yang sepertinya terkena tortikolis ke Dokter Spesialis Anak di RSU Sakina Idaman.

Benar saja oleh DSA divonis tortikolis dan dirujuk ke dr. Spesialis KFR atau Rehab Medik.

Kami janjian dengan dr KFR dan akhirnya bertemu.

Di hari pertama ketemu dengan dr. Sp KFR ini bayi saya didudukkan menghadap depan dan kepalanya dimiringkan ke kanan karena bayi saya tortikolis kanan (kepala miring ke kanan).

Beliau mengatakan bahwa saya bisa melakukan hal yang sama di rumah dengan cara seperti itu.

Hanya hitungan menit memperagakan kegiatan itu, dokter langsung memasang semacam lakban di leher kanan dan kiri bayi saya. Tujuannya saya lupa untuk apa.

Ok. Kami membayar dengan biaya pendaftaran, jasa medik dan fisioterapi. Kami tidak ngeh apa-apa.

Karena disuruh datang lagi 1 minggu kemudian maka kami janjian lagi.

Di pertemuan kedua ini bayi saya menangis cukup kencang. Tidak ada kegiatan apapun dan hanya langsung dipasang lakban itu atau tapping.

Karena menangis sepertinya pemasangan tapping di leher sisi kanan seperti kurang pas dan saya sudah bilang ke asistennya dan asisten tersebut sudah bilang ke dokternya. Dokter mengatakan tidak apa-apa.

Kami kembali membayar sekitar Rp 190.000 dengan rincian biaya pendaftaran, biaya jasa medis dan fisioterapi (Padahal tidak ada kegiatan apapun). Kami tidak dijanjikan harus datang lagi. Ada pesan kalo sampai usia 8 bulan belum bisa duduk bisa dibawa lagi.

1 hari kemudian ternyata bayi saya justru semakin miring ke kanan bahkan lebih miring dibanding sebelum konsultasi kedua. Kami sempat menanyakan ke RSU Sakina Idaman untuk konsultasi apakah bisa dihubungkan dengan dokter yang merawat dan jawabannya kami harus datang langsung.

Saat kami menanyakan apakah nanti kena biaya-biaya lainnya pihak pendaftaran tidak tau menahu.

Akhirnya saya lepas saja tapping tersebut karena kasihan sekali melihat bayi yang justru kepalanya malah makin miring.

Akhirnya saya mencari-cari pemahaman dan fisioterapis. Akhirnya menemukan 2 fisioterapis homecare.

Saya diskusi-diskusi sebenarnya apa yang dilakukan saat fisioterapi dan dari 2 fisioterapis itu ternyata memang harus ada langkah strectching, pemijatan, bahkan ada yang menggunakan sinar ultraviolet (saya detailnya lupa) dan sinar inframerah.

Lah, pas di RSU Sakina Idaman tidak diapa-apakan. Yang pertemuan pertama hanya diajari memiringkan kepala dan itupun hanya sekitar 10 menit saat di fisioterapi masing-masing bahkan hingga 30 menit lebih.

Entahlah mungkin saya yang kurang ilmu atau memang dari pihak RSu Sakina Idaman yang tidak memberitahu dan sampe sekarang yang saya penasaran adalah

1. saat fisioterapi itu dilakukan oleh fisioterapis atau dokter KFR?

2. jika dilakukan oleh fisioterapis kenapa yang menjalankan dokter KFR?

3. kenapa ada jasa fisioterapis jika memang hanya mencontohkan saja tapi tidak menjalankan fisioterapi?

Jika pihak RSU Sakina Idaman membaca tulisan ini mohon bisa memberikan tanggapan.

Sekadar informasi dari 2 link di bawah ini penjelasannya sebagai berikut

https://surabayasportclinic.wordpress.com/

Di dalam praktek sehari-harinya, dokter Sp.KFR bekerja sebagai pemimpin tim yang terdiri dari, fisioterapis, okupasional terapis, terapi wicara, pekerja sosial, ortotis prostetis (pembuat alat bantu – pengganti bagian tubuh palsu), perawat medis, psikolog dan perawat. Dokter rehab akan mengumpulkan problem listpasien dari masalah dengan mobilitas, aktivitas merawat diri, komunikasi, psikologi, sosioekonomi, pekerjaan dan mencari solusinya.

http://awalbros.com

”Dalam tindakannya terdapat satu tim yang terdiri dari berbagai macam terapi,” terang dokter rehabilitasi medik tersebut. Dijelaskannya, tim itu terdiri dari dokter rehabilitasi medik yang akan memeriksa kondisi pasien. Dokter juga membuat program perawatan yang akan dilanjutkan pihak terapi. ”Jadi dalam satu tim ada satu dokter rehabilitasi medik, fisioterapi untuk terapi fisik dan latihan, terapi okupasi, terapi wicara, orthotic prosthetic untuk pembuatan alat bantu atau ganti, psikologi, dan pekerja sosial untuk penanganan pasien tidak mampu,” papar dr. Fisher.

ARTIKEL PILIHAN

Leave a Reply